Wednesday, January 18, 2012

GAJI

PEMERINTAH akan segera membatasi pemakaian bahan bakar bersubsidi, begitu kata berita. Premiun atau bensin, tak lagi boleh dibeli oleh mereka yang memakai mobil pribadi. Tak soal mau mobil mewah keluaran terbaru, atau mobil butut keluaran tahun jadul (seperti punya saya), semua harus memakai pertamax.

Yang terpikir pertama oleh saya, kalau kemarin uang 100.000 bisa beli premium 22 liter lebih sedikit, sekarang dengan uang segitu tentu hanya dapat pertamax separonya? Kepada siapa lagi saya meminta tambahan uang untuk membeli bahan bakar minyak mobil saya ini, kalau jadi pemerintah memberlakukan kebijaksanaan di atas? Ke pemerintah sudah jelas gak mungkin. Ke perusahaan tempat saya bekerja? Sangat jelas juga, gak mungkin mengadukan permasalahan (derita gue ini) kepada kepala cabang saya, atau pun direksi, apalagi komisaris atau para pemegang saham. Mereka-mereka itu hanya butuh, satu kata: untuang.    

”Bung, kamu kok mengecilkan arti keberadaan mereka?” kata sesuara di dalam hati saya.

“Maksudmu ‘mereka’?”

“Ya bos-bosmu itu.”

“Hmm. Bukan mengecilkan arti mereka. Mereka toh juga karyawan. Sama dengan saya, pekerja. Bedanya, nasib mereka lebih bagus dari saya sedikit….

“Kok sedikit?”

“Mereka tidak mempunyai waktu ‘sebebas’ saya. Waktu mereka sudah tergadai oleh ruang yang bernama kantor. Walaupun kantor itu sejuk oleh karena AC, hati mereka seolah-olah tersangkut di putaran kipas AC, yang melepaskan udara panas. Begitu terus. Hidup sepertinya tergadai oleh rutinitas kerja yang sama dari hari ke hari. Parahnya, pasar bergolak, mereka ikut pusing.”

“Ah, itu kan kate lu aje? Mana tahu mereka menikmati.”

“Ya, mereka mau tak mau harus menikmati agar supaya bisa tenang. Agar supaya bisa nyaman bekerja. Agar supaya bisa fokus. Untuk itu mereka dibayar mahal oleh perusahaan. Gaji saya dibanding gaji mereka, wuiiih, gak ada apa-apanya gaji saya. Ini baru gaji doing, belum tunjangan sana-sini. Belum rifan saya dari lising yang ‘dimakan’ mereka. Bayangkan, saya yang bekerja pontang-panting, cuma kebagian 10 perseeen (dipotong pajak pula!). Yang 10 persen ini, habis sia-sia pula (impas pun tak!), hanya untuk mendengarkan ceramah mereka tentang moral dan agama setiap pagi. Soal gaji kecil ini, saya jadi ingat waktu tempo hari, saya pernah pesan sebuah Avanza dan menghadap bos (orang “bagak” dari selatan) untuk meminta diskon karyawan. Alih-alih dapat diskon, saya ditanyain, “Apa sanggup gajimu untuk membayar angsuran Avanza ini,”  katanya. Terhina saya. Alamaaak, mentang-mentang gaji saya keciiil, sombong kali dia. Bah!”

“Sabarlah, kawaaan.”

“Dari dulu saya dah sabar. Mungkin karena sabar, nasib ini begini-begini saja. Samalah sekarang ini menghadapi pembatasan bahan bakar minyak bersubsidi ini, saya pasti tetap akan sabar. Mengharap gaji naik untuk antisipasi ini oleh perusahaan? Weleh-weleh, pulsa saja yang dipakai untuk menunjang kegiatan kantor, bertahun-tahun pun, usahakan lah sendiri. Dulu barang yang saya jual, harganya puluhan juta, sekarang harga tersebut berlipat-lipat naiknya sampai ratusan juga, hitungan bonus masih seperti sedia kala saat saya masuk bekerja pertama kali. Belum ancaman tiap hari yang mengintai saya kalau saya tidak jualan.”

“Wah, komplit juga permasalahanmu, kawan. Tetapi kenapa kamu tidak beranjak saja dari sana?”

“Karena permasalahan inilah membuat saya sabar, yang justru  melenakan saya untuk betah di sini. Untuk menjadi besar, orang butuh banyak masalah untuk dipecahkan dan diselesaikan, kata orang hebat. Untuk menjadi lebih hebat benar, sepertinya saya harus beranjak dari situasi saya sekarang ini.” @18112


Wednesday, December 14, 2011

"Good" atau "Great" atau...?

BEBERAPA tahun yang lalu, saya pernah mendengar sebuah kaset motivasi dari Bapak Johanes Simatupang (Network Twenty One), bahwa musuh dari "Good" itu adalah "Great". Paradigma saya langsung terbalik-balik. Musuhnya "Good" apa bukan "Bad"? atau "Not Good"? Iya kan? Ternyata lebih jauh saya mendengar kaset itu, "Good" atau baik itu saja, ternyata tidak cukup, kita harus lebih dari itu. Kita harus "Great". Dan saya berdebat seru dengan seorang teman gara-gara istilah "Good" dan "Great" ini. Teman itu tak terima bahwa musuh dari "Good" adalah "Great". Saya tak paksa untuk terima, Pak Cik?

Dan, tadi pagi, James Gwee di radio Smart FM, membahas topik yang sama. "Good" saja untuk seorang karyawan itu cukup. Delapan puluh persen sebuah perusahaan diisi oleh karyawan "Good" ini juga tidak sehat. Karyawan-karyawan ini harus ditingkatkan untuk menjadi "Great". Untuk menjadikan "Great" itu ada dengan jalan diberi pelatihan oleh perusahaan, lalu si karyawan mengimplementasikan bagaimana dirinya untuk bisa menjadi "Great". James Gwee bilang, kalau ada karyawan yang berani 'berdebat' (baca: masukan) dengan bos-nya (tentu tidak asal debat), bisa dicirikan karyawan yang mungkin bisa jadi "Great". Jalan ke luar yang lain untuk menjadi "Great", karyawan yang 80% "Good" sebagian dipangkas ('ditendang ke luar') dan dicarikan karyawan baru yang "Great". Termasuk karyawan-karyawan lama atau tua, yang sudah rata-rata, ini dibuang saja. Sebab karyawan tua ini, gaji dan tunjangan sudahlah besar atau tinggi, tapi kerjanya rata-rata. Walaupun dia setia, sebaiknya, tendang saja.

Hah, saya merinding dibuatnya. Saya karyawan lama. Saya juga termasuk pembangkang. Kesetiaan juga diragukan? Alamak, saya pasti, karyawan yang dibidik perusahaan untuk dipecat. Walaupun gaji saya tak naik-naik. Dibandingkan karyawan baru yang baru 3 bulan kerja, gajinya tidak beda jauh dengan saya! Bayangkan, dengan karyawan yang baru 3 bulan kerja, dibandingkan dengan saya yang sudah bangkotan, gaji yang saya terima hanya selisih puluhan rupiah dengan anak baru itu. O Tuhan....

Untungnya, saya masih berproduksi. Entah "Good" atau "Great" dipandang perusahaan, saya kadang ketar-ketir oleh omongan-omongan bos, yang sepertinya selalu penuh ancaman. "Siapa yang tidak bisa eksis, siap-siaplah untuk dievaluasi". Omongan seperti ini, bagi saya, bukanlah motivasi, tetapi tidak lebih daripada mematikan motivasi karyawan. Kasihan saya dengan karyawan-karyawan baru, yang mungkin, telinganya belum kebal dengan ancaman-ancaman seperti ini.

Dan, radio yang saya dengarkan tadi pagi ini, akhirnya membuat saya tertawa sendiri juga. Bagaimana tidak, di situ, James Gwee bilang, apa gunanya karyawan "Great", kalau bosnya juga tidak "Great"? Karyawan "Great" biasanya tidak mau menerima atau bekerja sama dengan bos yang hanya "Good". Bisa-bisa hanya jalan di tempat gua menghadapi bos yang "Good". Tidak berkembang. Nah lu....

Kalau pun boleh saya memberi saran untuk para bos, janganlah selalu menuntut anak buah untuk meng-upgrade diri, Anda juga harus meng-upgrade diri? Janganlah selalu menuntut hasil akhir, sementara Anda tak mau tahu dengan proses. Perbanyaklah bergaul dan membaca, jangan hanya duduk-duduk saja di belakang meja. Saya kutipkan sebuah kalimat bagus, Jadilah pendengar yang baik. Telinga Anda tidak akan menjerumuskan Anda dalam bahaya (Frank Tyger). Maksudnya, janganlah terlalu banyak bicara, apalagi pembicaraan Anda selalu diiringi kata-kata, "Ini pembicaraan satu arah...." (Halah, masa kami dianggap enemy?)141211@www.narasied.com      

Monday, December 12, 2011

Today Profit Online

Friday, December 09, 2011

Di Atas

ORANG Minang punya pepatah begini, "Ta himpik indak di ateh". Maksudnya Terhimpit tapi ingin di atas. Dahsyat benar pepatah ini. Tak usah pula dibayangkan, bagaimana terhimpit itu bisa ada di atas. Tetapi inilah hebatnya pepatah ini, inilah hebatnya orang Minang ini.

Namun, keinginan di atas itu bukan monopoli orang Minang. Semua orang ingin di atas. Tetapi sayangnya, tidak semua orang bisa atau belum bisa di (ke) atas. Sejujurnya kalaupun semua orang di atas, tentu, atas itu sendiri tidak punya arti? Sebab tidak ada lagi orang di bawah. Semuanya sama. Tak ada lagi yang bisa disuruh-suruh. Selama ini, di bawah, identik dengan orang yang disuruh dari atas. Jelasnya, atas adalah kepala, bawah adalah ekor. Bos adalah atas, kaeyawan adalah bawah.

Percayalah kepada yang di atas. Menurut Anda, apakah Anda perlu kepada yang di atas? Ya, kalau konteksnya itu keimanan. Tetapi, perlu diwaspadai kalau Anda harus percaya kepada atas(an) Anda. Anda tidak perlu mempercayai atas(an) Anda, kata seseorang. Dosa! Jatuhnya syirik. Menduakan Tuhan, kata seseorang itu lagi. Lalu harus percaya pada siapa, dong? Percayalah pada nurani Anda. Kalau nurani itu sendiri sedang bingung, gimana dong? Wah, ini penyakit kebanyakan orang atas nih.

Saking banyaknya orang di atas menerima apa pun, semakin tampak bodohnya. Selain ketergantungan kepada orang di bawah, fokusnya menjadi di atas, tidak semua orang di atas sanggup menerima atas keatasannya tersebut. Selain penyakit nurani, tamak dan pongah kadang-kadang seiring sejalan semuanya. Uniknya, jatah yang di terima di atas ini lebih banyak diterima ketimbang di bawah ini. Bawah, atau di bawah, mau tak mau tetap harus menjadi nomor dua.

Halah, tulisan ini kok seperti tulisan orang atas? Tulisan bingung. Yah, kenapa gak bingung? Tulisan ini idenya ketika tengah berada di lobi hotel. Coba, kalau seandainya saya percaya kepada yang di atas, sementara yang di atas saya ini kebanyakan kamar, dan kalau saja ada di antara kamar itu orang lagi begituan denga pasangan sahnya, apakah saya harus percaya? Begitu pun, kalau sekiranya atasan saya juga selalu bingung, lebai atau berlebihan (menilai sesuatu, apakah saya serta-merta juga harus percaya? Halah, atas(an)mu terlalu banyak ngomong!@ www.narasied.com

Wednesday, November 23, 2011

Epak Bola Indonesia tidak pakai 'S'

MALAYSIA ternyata tidak butuh banyak pulau untuk bisa mendapatkan medali emas dari cabang sepakbola. Pun Malaysia tidak butuh pelatih asing untuk bisa menjuarai turnamen sepakbola piala AFF, enam bulan yang lalu. Pun Malaysia 'sepertinya' bisa menenangkan apapun tentang Indonesia.

Ini bukan soal nasionalisme, kata seorang teman saya, yang kebetulan entah di mana dia bertaruh, ternyata dia menjagokan tim Malaysia dalam sepakbola Sea Games kemaren. Ini semata soal duit, katanya berapi-api di depan televisi. Lihat, betapa cerdiknya pemain-pemain Malaysia itu meng-kicuh pemain-pemain Garuda Muda. Bagaimana tidak, menang dia dapat 100 juta, kalah dia dapat 150 juta dari Malaysia, rutuk teman yang lain, begitu kedudukan draw 1-1. Hahaha, berlebihan juga teman yang satu ini. Manalah ada suap pada ajang Sea Games ini? Mentang-mentang suap tengah jadi (ke)budaya(an) di negeri ini, semua disama-ratakan. Hati-hati lu ngomong sobat, ntar hilang malam lu.

Dan memang pada akhirnya Indonesia menelan kekalahan kembali. Kemenangan yang ditunggu-tunggu, mungkin, oleh seluruh penduduk Indonesia, baik di kota maupun di desa, ternyata hanya tinggal kenangan. Garuda Muda kandas! Lalu siapa yang mau disalahkan? Entahlah. Yang pasti, yang masih menjadi pertanyaan di dalam diri saya, kalaupun akan bertemu kembali di Final dengan Malaysia dan kalah lagi, kenapa waktu di babak penyisihan kita tidak ngotot untuk membantai Malaysia, seperti halnya 'membantai' Kamboja, Singapura, dan Vietnam? Setidak-tidaknya, andai saja di babak penyisihan kemaren, Rahmad Darmawan tidak menurunkan lapis dua, yang ternyata belum bisa menjadi lapis legit, kita menang, kemungkinan sesuatu yang berbeda, bisa saja terjadi, kalau di semifinal kita ketemu Myanmar, dan Malaysia ketemu Vietnam. Tetapi itulah kita 'menerima' saja kekalahan oleh Malaysia di penyisihan plus di final!

Bukan bermaksud mengecilkan arti pemain-pemain Garuda Muda yang bercucuran keringat berlaga di lapangan, terus terang, saya kecewa dengan RD yang menurunkan pemain yang tidak pas di penyisihan melawan Malaysia. Mungkin bermaksud menyimpan pemain inti untuk menghadapi Vietnam(?) dan atau Myanmar(?), pemain lapis dua itu hanya menjadi pesakitan saja dalam 90 menit pertandingan. Kebaikan RD menurunkan mereka tidak dijawab dengan baik oleh mereka, atau jangan-jangan RD salah memberi instruksi.

Atau jangan-jangan Malaysia memang benar-benar sakti? Bayangkan, mana banyak sih penduduk Indonesia dengan Malaysia? Mencari pemain saja pengurus dan atau pelatih tak becus-becus. Ah, entahlah, kapan Indonesia ini bangkit!@www.narasied.com

 
Design by Wordpress Theme | Bloggerized by Free Blogger Templates | coupon codes Redesign by Mung Bisnis