Sunday, June 03, 2012

Sense of National Car

DUE to lack the spirit of national pride that, while the neighboring countries already have national car, we are quite proud to be the builders and sellers of foreign products mere car ... (Jaya Supranaa, Kompas, Saturday, June 2, 2012).
I happened to pick out a small portion a little article in Kompas Pak Jaya yesterday. It's also sad. Especially because I am part of the person selling foreign car assembly
I do not know exactly how the industry benefited from this assembly, by the way, perhaps, not / have not thought to produce a car that is really the work of the nation. May have occurred. But by assembling just been lucky, have accommodated a lot of labor, why should not bother to create a national car? I said to myself. Yes, if I express at work, I fear later ridiculed or even fired. Pengkianat accused instead.
However, I might as well be honest, a sense of nationalism by creating a national car is for whom? What should we have such industries in the world economic situation was, he said again this lethargy? Does it exist if later the industry, with brands that Indonesia actually really, ensure employees are also a good salary? In the industrial assembly of foreign cars each month, wares over 300 units in each branch, the incentives of the first so-so much for it. Cekeran of insurance are still divided wildly busy. We are working, they can better results.
Mr. Jaya in the Compass article that was talking about national pride. Moreover, he said Indonesia was people prefer goods or foreign products, which the original goods Indonesia is more beloved and popular out there. Ironic indeed. But more ironically, had created a national car, with national pride, employees are not paid decent, but quite overwhelmed by the national taste. Is it enough? And writing on this blog does not intend to deny writing a Pak Jaya's true.@3.6.12

Tuesday, May 22, 2012

The Boss


My friend's boss at the office like say, "Please help me." In terms of the rules of language, there is nothing wrong with that sentence. But in terms of the rules of position, obviously, the sentence is to be counter-productive. Well frankly, there was denial of the position itself.

Big’ people do not have to (must) be helped. So also with the rich. Indeed, the great and rich man who must help the small and poor. Although in this country there is the motto of mutual help, but it is more preferred as a form of cooperation to things that are useful (especially for the general population).

Please help the ugliness, it's not you please help him. But the modus operandi. For example, bribery operandi. Unfortunately in this country could please help it turned upside down, at a time when there cronies are caught, his friends hand in hand, please help, whitewashing the prisoner's cronies.

No more shame, a shame it happened to consist of four syllables, in which the tribal people of China, the four that means no good, or die. It is a shame it does not already exist, as well as the death sentence alone. Even so my friend's boss. "Please help me ...."

The sentence above is actually a form of the sodium absorption ratio kebecusan him in the lead. Not only incompetent, but not authoritative. The men were told to help his boss. Actually, was not asked anything, the men will always help his commander. Men will lay his body to his boss's spirit. The men will put the interests of his boss. Anyway, the men asked to be ready to die though. Originally, the commander knows the principle of mutual help earlier. Do not just be good at asking for help?

Commanders will be ready at the front line of battle to defend his men. Commander will always defend the interests of each of his men. Commander will also always pay attention to the needs of his men. Commanders will not allow his men to die of starvation. Commander will provide a full affection as to his own son.

But where's a good commander? A good commander turned out to be much hanging in the sky. Commander is now only able to prosecute without being able to lead. Commander is now only able to ask without being able to give. Commander now can only criticize without being able to defend. So do not be surprised now many commanders, but none have the troops (read: men). He just had a robot, which is ready to push the button for ordered around.

Great? Of very great, that in the movies: the commander of a robot army! But unfortunately, this is not in the film, but in the real world. World which, frankly, takes conscience, to give first, and then without being asked, will be given by those who accept the gift. Bob Sadino on twitter, say this: not many machines as humans we fear, but the most horrible human being more and more like machines.

You are the commanders, the bosses, or leaders, have you give first? Trust me, give it will not reduce the authority, let alone reduce your property. Believe me, you will receive manifold blessings and fortune, so you think your crew is important.@



Friday, May 18, 2012

Moral vs Lady Gaga

KALAU sekiranya Lady Gaga jadi manggung di stadion gelora Bung Karno, siapa sajakah yang jadi penontonnya? Pertama, tentu orang yang punya duit. Kedua, pemusik, penikmat musik, dan penyanyi, itu pasti. Dan yang ketiga, tentu orang-orang dewasa yang sudah akil baligh, tahu mana yang jahat dan mana yang baik. Saya yakin, kalaupun stadion itu penuh, tentu yang jahat, atau katakanlah bandit besar, tentulah tidak semuanya.

Anggap, satu stadion yang nonton itu, para -maaf- penjahat semua. Para bandit semua. Indonesia itu kan bukan hanya sebesar stadion itu. Indonesia itu dari ujung Aceh sampai sudut Papua. Apakah satu stadion yang berisi -anggap saja begitu- orang-orang jahat, apakah bisa merusak moral bangsa, atau meruntuhkan bangsa? Wow, kalau begitu, bodoh sekali orang Indonesia ini. Satu stadion bisa mempengaruhi seluruh orang Indonesia.

Saya tidak tahu musiknya Lady Gaga. Rumahnya pun mboh di mana. Dan orang Indonesia yang seperti saya, pasti banyak sekali. Siapa itu Lady Gaga? Kenapa dia dilarang dia di Indonesia? Kenapa pak polisi tidak memberikan izin? Kenapa ormas Islam itu mau demo? Kenapa? Saya tidak pro Lady Gaga. Tidak juga pro pak polisi dan ormas Islam itu. Tetapi betul kata Ahmad Dani, masa sama Lady Gaga takut? Apakah betul moral orang Indonesia lemah, sama Lady Gaga saja bisa terpengaruh.

Sekarang, katakanlah satu stadion itu rusak moralnya gara-gara nonton Lady Gaga, apa urusan saya? Apa urusan teman-teman saya itu? Kan hanya satu stadion yang rusak Bukan satu Indonesia. Masuk akal kalau yang dilarang itu, kalau benar itu bisa merusak moral, sebaiknya karya-karya Lady Gaga saja yang dilarang. Tetapi toh, dalam bentuk dunia yang sudah lintas batas ini, apa mungkin bisa 100% men-stop hasil-hasil itu masuk ke Indonesia?

Ngawur saja menurut saya. Lady Gaga diurusin. Hal-hal yang lebih subtansial sepertinya diabaikan. Lalu apakah kalau Lady Gaga itu tidak jadi manggung, moral orang Indonesia akan bagus semua? Tentu tidak ada copet, maling, koruptor, pemerkosa. Kalau tidak ada para bajingan ini, tentu tidak ada polisi, jaksa, hakim, dan petugas KPK? Tentu kalau sudah begini, kita hidup bagai di sorga? Ke mana-mana aman. Tenteram. Betulkah?

Thursday, May 17, 2012

LADY GAGA

KATA orang Lady Gaga itu produk kapitalis. Entah dari lagunya, entah dari cara berpakaiannya, saya kurang mudeng. Hampir sama kekurang-mudengan saya ini dengan maksud 'produk' kapitalis. Padahal kan sudah jelas, dia lahir dan besar di dunia kapitalis, tentulah, baik sengaja atau tidak, dia akan menjadi 'produk' kapitalis.

Lalu, di mana di dunia ini, yang tidak ada kapitalis? Ada yang bilang begini, "musuh kita adalah kapitalis." Banyak yang setuju, banyak pula yang entah. Mikirin hidup buat makan, buat bayar hutang kadang-kadang sesak napas. Alih-alih mikirin kapitalis sebagai musuh. Musuh saya adalah diri saya sendiri. Namun, apakah enak hidup ini punya musuh?

Musuh kemakmuran, ketidak-makmuran. Musuh Makmur, bisa Pudin, bisa juga Oon. Tapi bisa juga Makmur ini tidak punya musuh. Bisa saja Makmur ini hidup tenteram dan banyak membantu banyak orang. Hidup saling mengasihi dengan para tetangganya. Yang pasti musuh Makmur itu, setahu saya, adalah dirinya sendiri. Bagaimana dia tidak tergoda selingkuh dan punya bini baru lagi, dan lagi. Nah, orang yang mengaku Islam banyak yang tergoda untuk berbuat seperti ini: batambuah bini. Katanya sih ngikut sunah nabi.

Pernah terbayang gak Lady Gaga itu lahir di sini? Bisa jadi namanya Ledi Ngguyu. Dan belum tentu pula menjadi penyanyi. Entah jadi babu di negara orang. Atau jadi tukang cuci di rumah Oom Udi. Dengan agama pas-pasan. Hari raya orang, hari raya pula kita. Alih-alih dia mudeng apa itu kapitalis!

Dan lalu apa hubungannya Lady Gaga dengan perusak moral bangsa? Sama tidak mudengnya saya dengan produk kapitalis. Tidak datang saja Lady Gaga itu ke sini, kok mau rusak moral bangsa ini, ya dia akan rusak. Masa moral bangsa disejajarkan, dihubung-hubungkan, dikait-kaitkan dengan Lady Gaga? Entah tahu entah tidak si Lady Gaga ini, Indonesia itu ada di mana. Tetapi orang-orang itu sudah pula kebakaran jenggot.@www.narasied.com  

Wednesday, May 16, 2012

BALIHO

BEBERAPA bulan yang lalu, saya memposting status (ciiiiiii...) di facebook. Saya mengomentari seseorang yang balihonya banyak dipasang di ruas-ruas jalan utama di kota saya. Tidak ada yang aneh apalagi spesial di baliho itu, kecuali ajakan untuk sesuatu yang membangun. Bolehlah ajakannya, pikir saya. Saya 'bertengkar' dengan pikiran saya sendiri tentang ajakan si bung itu.

By the way, baliho itu kok mirip seperti para pejabat, sih? Bathin saya. Iya, ya? Gambar atau profil wajah yang besar, tetapi tulisan atau pemberitahuannya kecil-kecil. Seolah-olah yang ditonjolkan itu wajah, rupa atau tampang. Sedang tulisannya atau pemberitahuan yang menyertai baliho itu, terserahlah mau kelihatan atau tidak. Terserahlah mau dibaca orang atau tidak. Yang penting nih tampang gua. Ini yang saya tulis di facebook.

Malamnya, tak dinyana, seseorang meng-add saya di bbm. Lalu di facebook orang yang sama itu meminta jadi teman. Semua saya terima. Di bb, setelah basa-basi, dia mempertanyakan kenapa saya meng-update status facebook seperti itu. Lho, emang dilarang? Bathin saya. Saya curiga jangan-jangan beliau ini teman dari yang terpampang di baliho yang saya komentari tersebut. Betul. Mereka ternyata sobat. Dan saya diundang ke 'base camp' mereka untuk bincang-bincang sambil kenalan dan lain sebagainya. Ajakan yang menarik. Tetapi sampai sekarang, sejak 'dialog' itu berlangsung, saya tak sempat-sempat ke tempat mereka. Sampai akhirnya, saya membaca di surat kabar, bahwa si bung di baliho itu 'akan' mencalonkan diri menjadi orang nomor satu di kota saya.

Hmm, sudah saya tebak dari semula. Memang tidak ada yang salah. Tidak ada juga yang berdosa. Sah-sah saja. Tetapi segampang itukah membangun basis massa? Segampang memasak mie instan? Dalam hati, untung saya tidak jadi ke tempat mereka. Hahaha.... saya sok suci. Tetapi bukan itu, maksud saya, gak segampang itu untuk menjadi orang nomor satu, beberapa bulan sebelumnya mengajak sesuatu, yang bisa saja belum familiar, belum lagi pembuktian sukses ajakan tersebut. Seolah-olah, maaf, ajakan itu ada maunya. Dan ya memang, maaf, ajakan itu sepertinya test case untuk perkenalan, nanti saya akan mencalonkan diri menjadi anu.

Semoga pendapat saya ini tidak benar. Cuma saya sangat menyayangkan cara-cara seperti di atas, dibuat hanya menjadi semacam fase, atau riwayat, untuk tahapan akan menjadi bla bla bla. Terlalu cepat, mungkin tepatnya, terlalu terburu-buru memanfaatkan momen. Maaf.  
















 
Design by Wordpress Theme | Bloggerized by Free Blogger Templates | coupon codes Redesign by Mung Bisnis