Friday, March 12, 2010

Tersinggung

SAYA akan merasa tersinggung jika ada orang memanggil saya dengan Tayab. Sebab saya bukan Tayab. Tapi saya adalah Heri. Terlebih-lebih lagi saya bukanlah seorang publik figur ataupun artis. Jadi jelas saya sama sekali tidak pernah memerankan sebuah tokoh atau peran yang bernama Tayab, yang berakibat kepada hilangnya pamor nama asli saya yaitu Heri.

Tetapi apalah arti sebuah nama? Sebetulnya bisa saja saya tidak tersinggung saya dipanggil atau disapa dengan nama Tayab, Tayib, atau pun Tayub. Kalau nama itu pula yang mengakibatkan saya bisa akrab dengan orang yang memanggil, apa pula salahnya. Toh tidak rusak pula pribadi saya karena sebuah panggilan. Di kampung saya banyak orang lupa nama kecilnya, sebab orang-orang hanya memanggil gala, atau gelar.

Cuma, waktu membaca berita seorang artis kemaren dipanggil Oneng, lantas yang bersangkutan tersinggung, rada aneh juga. Oneng adalah peran sukses, tokoh yang dulu pernah diperankannya. Satu sisi namanya jadi bertambah terkenal karena peran tersebut, sampai-sampai sekarang pun orang masih memanggil dengan nama Oneng tersebut. Mestinya ia bangga karena keberhasilannya itu. Tokoh itu masih lekat di kepala orang. Macam... Menunggu Godot, misalnya. Siapa Godot? Kamu tahu Godot?

Barangkali ke-tersinggung-an menjadi suatu peran dalam satu ketika. Dan orang gampang tersinggung menjadi lebih gampang ditemui akhir-akhir ini....@

Read More

Saturday, February 20, 2010

BUNTING (DI LUAR NIKAH)

BEBERAPA hari yang lalu saya membaca berita tentang seseorang artis yang tengah bunting(di luar nikah), yang konon kabarnya akan bebas dari penjara tersebab kasus obat-obat terlarang, dijadikan ikon sebagai Duta Anti Aborsi (entah oleh badan apa, saya agak emoh membacanya). Emoh, saya tidak bisa berbuat apa-apa, melihat hal ganjil menjadi hal yang biasa akhirnya di Indonesia. Padahal setahu saya, di banyak daerah di Indonesia, kalau ada kedapatan seorang gadis yang buntingdi luar nikah, pasti dari pihak keluarga akan berusaha menyembunyikan anaknya. Sebab selain akan menanggung beban malu, juga akan menanggung beban sosial dari masyarakat terhadap keluarga itu sendiri.


Bayangkan pula kalau si bapak bayi itu tak jelas siapa orangnya. Bisa satu. Bisa dua. Tentu bisa pula tiga? Asumsi orang yang melihat dan mendengar tentu bisa bermacam-macam. Dari hal yang negatif sampai ke negatif sekali. Apakah ada orang baik-baik melakukan hal ini? Apakah ada wanita baik-baik yang rela bunting tanpa dinikahi? (Tidak perlu dijawab sobat). Bunting sebelum nikah saja, apa pun bentuknya -setahu saya- di Indonesia ini adalah perbuatan tercela. Dalam Islam setahu saya itu perbuatan zina. Ditambah lagi tidak tahu bapaknya. Weleh... weleh....


Tetapi kok begitu publik figur itu bunting dan -maaf- tidak tahu siapa lelakinya, sepertinya semua orang malah menikmati berita tersebut. Dalam beberapa tahun terakhir ada beberapa orang artis melakukan hal yang sama, tetapi mereka-mereka malah sepertinya menikmati keadaan tersebut. Publik pun malah hening-hening saja. Apa bedanya dengan korupsi? Toh ranahnya masih bicara soal moral. Ke mana perginya begitu banyak ormas-ormas dan LSM-LSM yang tempo hari lantang bicara soal moral? Apakah kejadian seperti ini sekarang sudah menjadi hal yang lumrah? Zina kalau suka sama suka mari kita lakukan.


Anehnya Pemerintah malah melarang orang untuk melakukan nikah siri. Tidak nikah tapi bunting jadi tontonan yang mengasyikkan yang sepertinya di-'legal'-kan. Yang ditonton pun ketawa-ketiwi cuek bebek. "Ini lho aku. Asyik deh. Kamu boleh coba kalau mau." Apakah kita sudah menganut paham seks bebas sehingga bunting tanpa nikah pun tak ada sangsi apa-apa dari Pemerintah? Apakah menjadi preseden yang baik kalau orang yang sudah jelas-jelas salah masih pula dijadikan ikon sebagai Duta? Lalu Moral itu sendiri di mana letaknya? Kalau begitu Korupsi No, Bunting Di Luar Nikah Yes!@ 20.02.2010



Read More

BERSATULAH PARA 'KARYAWAN'

LAMA nian saya tak mengunjungi 'toko' ini. Selain masih sibuk berbenah dan membersihkan puing-puing toko, kesibukan di kantor juga membuat sepertinya tak punya waktu. Hmm, tentu bagi para pejuang kesuksesan, alasan ini adalah alasan klasik yang tidak masuk akal. Maafkanlah kalau begitu, kawan. Hari ini saya ingin 'memuntahkan' tulisan perihal tentang kemuntahan saya melihat tingkah laku orang-orang yang mengaku pimpinan. Kenyataan tentang topik-topik begini ternyata tak habis-habis.


Jadi suatu ketika, sebetulnya, hampir setiap hari, orang-orang ini bermuka ditekuk. Berpura-pura sangar, mungkin maksudnya agar kelihatan jaim, tetapi malah tingkah lakunya itu membuat saya tiap hari tertawa terbahak-bahak. Nyaris setiap hari saya melihat badut (berkeliaran). Ini belum lagi kalau berbicara. Andai saja Ibu Mien Uno tahu, pasti akan diberi nasehat. Berapa persen benar bisa ditangkap hal baik yang keluar dari mulut yang kasar dan penuh ngancami orang?


Orang yang berhasil sukses adalah orang-orang yang terlebih dahulu mensukseskan orang lain. Perusahaan sepertinya tak lebih sama dengan multi level marketing. Bosnya sukses seharusnya dia mensukseskan anak buahnya terlebih dahulu. Tetapi kalau ada bosnya sukses anak buahnya tidak sukses, saya yakin bos tersebut memakai ajaran tangan besi. Sukses buat dirinya sendiri. Orang lain kondisinya bagaimana ia tak mau tahu. Bos-bos yang seperti ini dilansir banyak bertebaran di banyak perusahaan.


Gampang kok untuk membuktikan banyak bos-bos seperti itu. Di radio Smart FM Jakarta yang dilansir radio-radio daerah setiap hari jam 7.00 - 8.00 WIB dan jam 19.00 - 20.00 WIB kecuali hari Sabtu dan Minggu, punya acara tetap dengan topik beragam tentang marketing, leadership, kebahagiaan dan tentang hal yang remeh temeh untuk sesuatu perubahan ke hal yang lebih baik. Nah, di setiap sesi tanya jawab, banyak pertanyaan-pertanyaan yang timbul dari para pendengar menanyakan bagaimana cara menghadapi bos-bos yang 'bermasalah'.


Hmm, saking banyaknya pertanyaan tentang bagaimana cara menghadapi bos-bos yang bermasalah, saya merinding juga. Ternyata permasalahan saya sebagai karyawan beda-beda tipis dengan banyak para karyawan lain di Indonesia. Apa lacur?@ 20.02.2010

Read More

Tuesday, January 12, 2010

Sawit Indonesia dan Malaysia

DALAM Konferensi Perubahan Iklim di Kopenhagen 7-18 Desember 2009 yang lalu, Indonesia telah bertekad tidak akan lagi melakukan konversi hutan untuk menjadi perkebunan kelapa sawit (Kompas, 21/12/2009). Perkebunan kelapa sawit dinilai sangat rakus terhadap air yang mana bisa mengakibatkan penggurunan/padang pasir, sementara perubahan fungsi lahan akan melepaskan juga emisi karbon dalam jumlah yang besar, yang berefek kepada memperparah pemanasan global.


Pengalihan fungsi hutan untuk perkebunan kelapa sawit ini juga akan dikhawatirkan selain mengancam keanekaragaman hayati, hutan dan lahan gambut (yang terancam punah), hal ini juga mengancam keberlangsungan sumber pangan terhadap masyarakat adat (seperti yang terjadi di Papua), Kompas, 12/12/2009.


Tetapi bagi kalangan pebisnis, perluasan perkebunan kelapa sawit dipandang perlu untuk bisa menjadi raja sawit dunia. Indonesia masih mempunyai lahan yang luas untuk itu. Terutama di Kalimantan. Sepertinya para pebisnis sawit Indonesia sepertinya masih beranggapan, besar dan luas itu hebat.


Seperti yang kita ketahui bersama, saat ini pasar minyak sawit dunia masih dikuasai oleh Malaysia. Pasokan Malaysia dan Indonesia bagai bumi dan langit, kata John Baker, analis pangan dan pertanian dari Rabobank International (Tempo, 20/12/2009). Ini adalah sebuah ironi, kenapa Indonesia yang menyandang sebagai prediket produsen CPO terbesar di dunia, seperti tak mempunyai kemampuan dasar untuk bisa menguasai pasar. Selain ditengarai kenapa Malaysia bisa unggul telak karena mempunyai sistem bisnis yang bagus, dengan dibantu oleh asosiasi dan pemerintahnya, memang secara kelembagaan industri minyak sawit Malaysia sudah mapan sejak dulu. Pemerintah dan para pengusahanya bahu membahu untuk menjadikan Malaysia bisa seperti sekarang ini. Pengusaha berkonsentrasi kepada produksi, sementara pemasarannya sudah ada yang membantu.


Nah, pertanyaannya, kenapa Indonesia tidak bisa seperti itu? Bisa, tapi (disinyalir) hanya dengan memperluas kebun, membabat hutan dan (mungkin) menomorduakan masyarakat yang ada di sana: Kebun Sawit Terlantar. Berita Kompas (12/12/2009) bisa untuk jadi rujukan. Pemerintah Provinsi Kaltim telah mengeluarkan izin usaha perkebunan kelapa sawit secara besar-besaran. Hingga akhir tahun 2009, izin itu mencapai 2,214.490 hektar yang dipegang oleh 220 perusahaan. Ironisnya sebagian lahan itu terlantar karena banyak yang belum digarap. Berita di Kompas ini mungkin hanya sebuah kejutan kecil saja di antara banyak hal yang mesti dibenahi dalam persoalan sawit. Jangan hanya pintarnya membangun, tetapi tidak juga pintar menyelesaikannya. Dan anehnya pemerintah kok sepertinya gampang banget dalam mengeluarkan izin.


Gunawan Lubis, Kepala Divisi Intensifikasi PT. Astra Argo Lestari Tbk, seseorang yang mampu memetakan karakter tanah tiap-tiap pulau (karena lamanya bergulat dengan seluk beluk kelapa sawit) mengatakan, bahwa Kalimantan kurang bagus untuk perkebunan kelapa sawit. Sebab selain kekurangan air, tanahnya banyak bukan bentukan dari gunung berapi, karena memang di Kalimantan tidak terdapat gunung berapi (Majalah Astra, Mei-Juni 2009). Tetapi kenyataannya, Kalimantan masih jadi tujuan perluasan kebun. Proyek yang tengah digarap di kawasan ini adalah di Maloi, Kalimantan Timur, yang akan dijadikan tiga kawasan industri terpadu minyak sawit Indonesia selain di Sei Mangke, Sumatera Utara dan Kuala Enok, Riau (Tempo, 20/12/2009).


Apakah betul seperti yang dikhawatirkan Derom Bangun (Tempo,20/12/2009), wakil ketua Dewan Minyak Sawit Indonesia, bahwa pengusaha Indonesia pandainya hanya menjual CPO, produk yang masih mentah, tinimbang komoditas turunannya seperti minyak goreng dan beberapa produk lemak nabati lainnya?


Sayang memang.Dan kita memang masih harus mengakui (sekali lagi) keunggulan negeri tetangga tersebut.@3.1.10

Read More

Friday, January 01, 2010

Copet... Copet... Copeeet

HATI-HATI jika Anda diteriakin seperti itu di Jakarta. Bisa-bisa nyawa Anda jadi taruhannya. Saya hampir (pernah) diteriakin seperti itu ketika masih bekerja di Jakarta kemaren dulu. Padahal waktu itu saya hanya berlari mengejar taksi karena terburu-buru. Eh, ndilalah, saya diteriakin copet oleh orang-orang di perapatan dekat lampu merah. Untung saya cepat tanggap akan situasi yang bisa saja merenggut nyawa saya. Jakarta kota yang hebat sekaligus unik.



Dalam kondisi yang hampir-hampir mirip, (empat) polisi menuduhkan kepada seseorang yang salah tangkap, lalu menghajar sampai babak-belur. Alasan polisi kenapa orang yang salah tangkap itu dihantami karena diteriakin copet oleh orang-orang di sekitar kejadian. Bisa iya bisa tidak. Tapi merujuk kepada yang saya alami, teriakan copet itu bisa saja dialami oleh semua orang. Nasib baik saja saya selamat. Nah, kalau apes? Ya babak-belur yang bisa-bisa berujung kepada kematian. Pertanyaan sederhana, kalau ada orang diteriakin copet (anggap saja benar memang ada copet) apakah bisa dibenarkan kalau polisi lantas juga mukulin dan gebukin? Main hakim sendiri kan katanya tak boleh? Lha wong main hakim benaran aja sekarang ini juga tidak karu-karuan?



Seseorang yang salah tangkap itu, betul, seorang peneliti sejarah dari Komunitas Bambu, Depok yaitu Bapak JJ Rizal. Apa yang dialami oleh bapak ini menambah lagi daftar jelek dari tingkah laku para polisi. Judul berita di Kompas (Minggu, 13 Desember 2009) juga cukup tajam, Salah Tangkap atau “Iseng-iseng Berhadiah”. Polisi hebat banyak. Polisi tak hebat juga banyak. Namanya juga manusia. Tapi ya jangan dijadikan standar kalau manusia itu bisa berbuat salah. Standar manusia untuk menjadi penegak hukum kan melalui proses. Tidak semua orang bisa lulus (dan mau) untuk itu. Tidak salah kalau masyarakat itu menuntut, bahwa penegak hukum itu harus bisa bekerja dengan benar dan tidak menyakiti -apalagi rakyat kecil. Cuma hal ini sepertinya masih jadi pe-er berat buat mas pol-mas pol tersebut.



Pesan teman saya (tahun 2001-2003) kalau Anda dari Bogor hendak ke Jakarta malam hari, lalu di jalan ada razia polisi, sebaiknya Anda tidak membuka bagasi sembarangan walau pun itu disuruh oleh polisi. Bagusnya Anda turun mengikuti polisi-polisi tersebut. Bisa jadi polisi-polisi tersebut menemukan BB yang sengaja diletakkan oleh polisi tersebut. Menjebak? Hmm.



Saya tak tahu apakah sekarang-sekarang ini pesan tersebut masih beredar di kalangan para pejalan malam?@141209

Read More