PEMERINTAH akan segera membatasi pemakaian bahan bakar bersubsidi, begitu kata berita. Premiun atau bensin, tak lagi boleh dibeli oleh mereka yang memakai mobil pribadi. Tak soal mau mobil mewah keluaran terbaru, atau mobil butut keluaran tahun jadul (seperti punya saya), semua harus memakai pertamax.
Yang terpikir pertama oleh saya, kalau kemarin uang 100.000 bisa beli premium 22 liter lebih sedikit, sekarang dengan uang segitu tentu hanya dapat pertamax separonya? Kepada siapa lagi saya meminta tambahan uang untuk membeli bahan bakar minyak mobil saya ini, kalau jadi pemerintah memberlakukan kebijaksanaan di atas? Ke pemerintah sudah jelas gak mungkin. Ke perusahaan tempat saya bekerja? Sangat jelas juga, gak mungkin mengadukan permasalahan (derita gue ini) kepada kepala cabang saya, atau pun direksi, apalagi komisaris atau para pemegang saham. Mereka-mereka itu hanya butuh, satu kata: untuang.
”Bung, kamu kok mengecilkan arti keberadaan mereka?” kata sesuara di dalam hati saya.
“Maksudmu ‘mereka’?”
“Ya bos-bosmu itu.”
“Hmm. Bukan mengecilkan arti mereka. Mereka toh juga karyawan. Sama dengan saya, pekerja. Bedanya, nasib mereka lebih bagus dari saya sedikit….
“Kok sedikit?”
“Mereka tidak mempunyai waktu ‘sebebas’ saya. Waktu mereka sudah tergadai oleh ruang yang bernama kantor. Walaupun kantor itu sejuk oleh karena AC, hati mereka seolah-olah tersangkut di putaran kipas AC, yang melepaskan udara panas. Begitu terus. Hidup sepertinya tergadai oleh rutinitas kerja yang sama dari hari ke hari. Parahnya, pasar bergolak, mereka ikut pusing.”
“Ah, itu kan kate lu aje? Mana tahu mereka menikmati.”
“Ya, mereka mau tak mau harus menikmati agar supaya bisa tenang. Agar supaya bisa nyaman bekerja. Agar supaya bisa fokus. Untuk itu mereka dibayar mahal oleh perusahaan. Gaji saya dibanding gaji mereka, wuiiih, gak ada apa-apanya gaji saya. Ini baru gaji doing, belum tunjangan sana-sini. Belum rifan saya dari lising yang ‘dimakan’ mereka. Bayangkan, saya yang bekerja pontang-panting, cuma kebagian 10 perseeen (dipotong pajak pula!). Yang 10 persen ini, habis sia-sia pula (impas pun tak!), hanya untuk mendengarkan ceramah mereka tentang moral dan agama setiap pagi. Soal gaji kecil ini, saya jadi ingat waktu tempo hari, saya pernah pesan sebuah Avanza dan menghadap bos (orang “bagak” dari selatan) untuk meminta diskon karyawan. Alih-alih dapat diskon, saya ditanyain, “Apa sanggup gajimu untuk membayar angsuran Avanza ini,” katanya. Terhina saya. Alamaaak, mentang-mentang gaji saya keciiil, sombong kali dia. Bah!”
“Sabarlah, kawaaan.”
“Dari dulu saya dah sabar. Mungkin karena sabar, nasib ini begini-begini saja. Samalah sekarang ini menghadapi pembatasan bahan bakar minyak bersubsidi ini, saya pasti tetap akan sabar. Mengharap gaji naik untuk antisipasi ini oleh perusahaan? Weleh-weleh, pulsa saja yang dipakai untuk menunjang kegiatan kantor, bertahun-tahun pun, usahakan lah sendiri. Dulu barang yang saya jual, harganya puluhan juta, sekarang harga tersebut berlipat-lipat naiknya sampai ratusan juga, hitungan bonus masih seperti sedia kala saat saya masuk bekerja pertama kali. Belum ancaman tiap hari yang mengintai saya kalau saya tidak jualan.”
“Wah, komplit juga permasalahanmu, kawan. Tetapi kenapa kamu tidak beranjak saja dari sana?”
“Karena permasalahan inilah membuat saya sabar, yang justru melenakan saya untuk betah di sini. Untuk menjadi besar, orang butuh banyak masalah untuk dipecahkan dan diselesaikan, kata orang hebat. Untuk menjadi lebih hebat benar, sepertinya saya harus beranjak dari situasi saya sekarang ini.” @18112





12:56 AM
Edy Soemanto
Posted in: 


