Thursday, October 08, 2009

'MATO LALOK HATI BATANGGANG'

JUDUL di atas dalam bahasa Minang berarti mata tidur tapi hatinya begadang (hmm, dalam bahasa Minang begadang ini artinya be-besar atau big B, macam rumah gadang atau rumah besar, hehehe). Sebetulnya judul di atas hanya semacam bahasa slank yang digunakan secara berseloroh di antara teman-teman sebaya. Tapi kadang-kadang, satu sisi, menampakkan isi yang sebenarnya. Orang yang sedang patah hati cocok dengan judul ini. Atau, lagi yang banyak utang, barangkali. Atau, yang gak biasa tidur di rumah mertua bisa juga. Hahaha, nyindir nih?
Ada kisah di suatu negeri, seseorang yang gagah berani dan mengaku jenderal, ternyata mengalami juga mato lalok hati batanggang ini. Hal-hal yang ditakutinya bukanlah pergi ke medan pertempuran atau pergi menumpas pemberontakan. Ketika malam tiba, saat banyak orang pergi istirahat untuk tidur, jenderal satu ini mengalami ketakutan tiada tara menghadapi malam. Lha, kan jenderal itu mempunyai istri dan pengawal. Pengawal betul dia punya. Tapi istri tidak. Dulu jenderal ini konon mempunyai istri yang cantik jelita, tapi karena alasan klasik sang istri telah diceraikannya. Tak jelas alasan klasik itu apa. Tapi menurut sumber yang layak dipercaya, alasan klasik itu, kata si jenderal, istri sering menghambat dan memperlambat kerja atau karir jenderal. Maka diceraikannya sang istri dengan mantap. Celakanya karir jenderal memang naik, tapi tak pernah menjadi jenderal besar atau jenderal penuh. Memang jenderal juga, tapi jenderalnya paling bawah sampai masa pensiunnya tiba. Dan jenderal pun tak punya lagi pengawal.
Ketakutan itu makin menjadi-jadi. Pensiunan. Sendiri. Sedikit ada gejala sindrom power. Benci dengan malam (tepatnya benci dengan kegelapan). Tidur acap secuil, selebihnya mato lalok hati batanggang, sekali pun menginap di hotel atau tempat keramaian. Setiap menginap di hotel sering mengeluarkan biaya ekstra untuk mengajak orang menemaninya di kamar. Si teman tidur kebanyakan hanya bisa diam mendengarkan kisah hidup sang purnawirawan jenderal yang sebetulnya dingin dan biasa-biasa saja. Tak banyak cerita amazing dari dia. Yang paling menarik apalagi kalau bukan ceritanya tentang ketakutannya akan kesendirian. Aneh tapi nyata. Saat banyak orang, kesendirian (mungkin lebih tepat dikatakan saat diri sedang sendiri) diisi dengan instropeksi diri dengan ber-munajat, sang purnawiran jenderal ini malah takut. Ketakutan yang nisbi.
Sampai suatu ketika nasib baik masih menghampiri sang purnawiran jenderal, ia diminta oleh seorang temannya mengurus sebuah perusahaan, ia malah sering berlarut-larut di kantor, bahkan tak jarang pula tidur di sana. Sejak itu pula ia sering mencimeeh banyak karyawannya dengan mengatakan tidak loyal. Jam pulang kantor tiba, semua bergegas beres-beres untuk pulang. Tak pernah menganggap penting karyawan untuk kemajuan dan keuntungan perusahaan. Pertanyaannya, betulkah tindakan sang jenderal sering merendahkan dan mencimeeh pasukannya akan membangkitkan semangat pasukannya?@

0 comments:

Post a Comment